Selasa , April 22 2025

Halaqah 23 – Hukum Nazhar (Laki-laki Memandang Wanita) Jenis Ketiga

🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 RABU
| 17 Jumādā al-Ūlā 1443 H
| 22 Desember 2021 M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حَفِظَهُ اللَّهُ تَعَالَى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Halaqah 23
📖 Hukum Nazhar (Laki-laki Memandang Wanita) Jenis Ketiga
🔊 Audio, klik disini atau klik disini
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin dan muslimat peserta grup Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita telah berbincang-bincang tentang hukum lelaki memandang wanita.

Menurut al-muallif al-Imam Abu Syuja’ lelaki memandang kepada lawan jenis itu ada tujuh kondisi:

1) Dia memandang kepada wanita yang non mahram (bukan mahram)nya, maka ini sepakat para ‘ulama itu haram hukumnya, bila itu dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan.

2) Dia memandang kepada istrinya, kepada budak (hamba sahaya)nya maka dia boleh memandang semuanya kecuali kepada kemaluannya, itu menurut madzhab Imam Syafi’i dan menurut madzhab yang lainnya, maka dia boleh melihat semuanya.

Kemudian al-muallif rahimahullahu taala Al-iman Abu Suja’ rahimahullahu taala mengatakan,

وَالثَّالِثُ: نَظَرُهُ إِلَى ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ أَوْ أَمَتِهِ الْمُزَوَّجَة فَيَجُوْزُ النَّظَرُ فِيْمَا عَدَامَا بَيْنَ السُّرَةِ وَالرُّكْبَةِ

3) Bila seseorang itu memandang mahramnya: ibunya, anaknya, saudarinya, bibinya, saudari sepersusuannya, mertuanya, atau menantunya, atau

أَوْ أَمَتِهِ الْمُزَوَّجَة

Atau kepada budaknya yang telah dia dinikahkan dengan lelaki lain, maka kata beliau,

فَيَجُوْزُ النَّظَرُ

Maka baginya boleh melihat

فِيْمَا عَدَامَا بَيْنَ السُّرَةِ وَالرُّكْبَةِ

Maka dia boleh melihat anggota tubuh wanita tersebut selain dari pusar hingga lutut.

Dia tidak boleh melihat dari batas pusar hingga lututnya. Adapun selebih itu melihat ke betisnya, punggungnya, lengannya, maka itu boleh. Wajahnya, rambutnya boleh.

Namun tentu perlu dibedakan, boleh melihat bukan berarti itu adalah restu atau izin bagi wanita mahram untuk bertelanjang dada, tentu tidak.

Namun ketika itu tersingkap karena suatu alasan, misalnya dia di dalam rumah maka dia tidak harus mengenakan kerudung, dia boleh mengenakan pakaian dalam rumah, sehingga nampak lengannya, rambutnya, lehernya, betisnya maka itu tidak mengapa.

Dan kalaupun dalam beberapa kondisi nampak misalnya bagian punggungnya maka itu juga tidak mengapa, karena itu adalah mahramnya, tetapi bukan berarti mentang-mentang mahram, wanita itu kemudian bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendek saja tentu tidak dibenarkan atau rok pendek saja, tentu tidak dibenarkan.

Kenapa? karena perlu dibedakan antara boleh melihat, dengan anjuran melihat atau anjuran membuka diri, tentu beda. Ketika boleh melihat itu artinya ketika nampak karena satu hal maka itu tidak wajib ditutupi, tidak dosa.

Tetapi bukan berarti anda mengumbar aurat anda, mengumbar kecantikan anda, lekak-lekuk badan anda kepada mahram anda. Karena tentu kalau itu dilakukan dapat menimbulkan fitnah, dapat menjadi pintu masuknya setan untuk menggoda anda dan mahram anda.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan kita semuanya kaum muslimin secara umum untuk menjauhi segala hal yang dapat berpotensi mengundang terjadinya pergaulan bebas ataupun perzinaan. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ

Dan janganlah engkau mendekati semua perbuatan, janganlah engkau melakukan semua aktivitas, semua kegiatan atau semua perbuatan yang dapat mendekatkan Anda kepada perbuatan zina. (Al-Qur’an Surah Al-Israa {17} Ayat 32)

Dan semua orang sepakat bahwa di antara penyebab terjadinya perbuatan zina yang paling banyak ialah dengan seseorang itu mengumbar auratnya, membuka sesuka hatinya. Karena itu dalam Al-Qur’an, Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kaum wanita dan demikian pula kaum pria untuk senantiasa menundukkan pandangan dan perintah ini bersifat mutlak.

Walaupun tentu yang paling utama, paling wajib untuk kita menundukkan pandangan adalah dari wanita-wanita yang bukan mahram. Adapun yang mahram, maka sekali lagi boleh kelihatan tapi bukan berarti boleh mengumbarnya.

Karena ketika mengumbar itu berarti mengundang godaan setan apalagi sampai mengenakan pakaian yang ketat, menggambarkan tentang lekak-lekuk tubuhnya walaupun di depan mahramnya itu juga tidak sepatutnya dilakukan karena itu akan mengundang setan.

Dan dari sisi lain para ‘ulama juga menjelaskan bahwa pentingnya kita menjaga muru’ah (kesantunan), tentu tidak santun ketika anda di depan mertua anda (misalnya) mertua laki-laki anda, anda mengenakan pakaian yang ketat, menggambarkan lekak-lekuk tubuh anda, mengenakan rok mini, bertelanjang dada misalnya.

Tentu ini tidak sepatutnya dilakukan, dan itu bentuk dari tafahus (perbuatan yang tidak senonoh), perbuatan keji atau perbuatan yang jorok, tidak sesuai dengan kesantunan seseorang muslim. Kemudian di antara hal yang juga perlu diingatkan di sini bahwa boleh melihat bukan berarti sekali lagi mengumbar. Karenanya para ‘ulama membedakan di sini kata-katanya adalah boleh melihat bukan harus melihat dan juga boleh mengumbar, bukan!

Dan para ahli fiqih juga lebih jauh menjabarkan, bahwa yang dimaksud dari kondisi ketiga ini adalah, seorang wanita ketika berada di tengah rumahnya di antara mahramnya. Dia boleh mengenakan pakaian yang sewajarnya dikenakan di dalam rumah.

Kalau di konteks masyarakat kita misalnya mengenakan daster, baju tidur atau baju di dalam rumah yang setengah betis, lengannya terbuka (misalnya) itu tidak mengapa. Kenapa? Karena itulah perbedaan antara mahram dan non mahram, sehingga pakaian yang biasa dikenakan untuk bekerja dalam rumah itu boleh dikenakan di depan mahram. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

Dan tidaklah mereka boleh menampakkan (wanita-wanita) perhiasannya kecuali kepada,

لِبُعُولَتِهِنَّ

Suami-suami mereka,

أَوْءَابَآئِهِنَّ

Atau kepada orang tua mereka dan seterusnya. (Al-Qur’an An-Nur {24} Ayat 31)

Ini dalil nyata bahwa menampakkan perhiasan yang biasa dikenakan wanita, gelang, lengan, kalung (misalnya) itu tidaklah mengapa. Dan tentu ketika menampakan kalung, gelang akan nampak pula lengan dan lehernya. Wallahu Ta’ala A’lam.

Ini yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menambahkan taufik hidayah kepada kita semuanya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa,

يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Kurang dan lebihnya mohon maaf.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sampai jumpa di lain kesempatan.

وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيق وَالْهِدَايَة

In Syaa Allah Berlanjut

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Halaqah sebelumnya, klik disini
Halaqah selanjutnya, klik disini

Bagikan Ke

About admin.alhanifiyyah

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ahlan Wa Sahlan Para Pengunjung Rahimakumullah Semoga Bisa Mendapatkan Faedah Dan Berbuah Menjadi Amal Jariyah. Barakallahu Fikum...

Check Also

Halaqah 15 – Menjaga Adab dalam Menuntut Ilmu

🌐 WAG Surabaya MengajiProgram KEBUT (Kelas Kitab Tuntas)≈Kelas Kitab Tuntas Surabaya Mengaji 🎙 Oleh: Ustadz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses